pembacasetia.com, Samarinda – Kondisi fisik Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang berlokasi di Jakarta mendapat sorotan tajam dari Komisi I DPRD Kaltim.
Dalam kunjungan kerja yang dilakukan beberapa waktu lalu, anggota dewan menemukan sejumlah kerusakan serius pada bangunan yang dinilai sudah tidak layak pakai.
Anggota Komisi I DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu, mengungkapkan keprihatinannya setelah melihat langsung kondisi gedung tersebut.
Ia menilai, kantor penghubung yang semestinya menjadi wajah representatif Provinsi Kaltim di tingkat nasional, kini justru memperlihatkan kesan buruk akibat minimnya perawatan.
“Kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Bukan sekadar retak atau cat mengelupas, tapi rusak secara struktural. Ini bukan lagi bisa ditambal sulam. Harus direhabilitasi total,” ujarnya.
Dalam peninjauan tersebut, Baharuddin didampingi oleh dua koleganya di Komisi I, yaitu Didik Agung Eko Wahono dan Safuad. Mereka juga berdialog dengan pihak pengelola gedung, yang membenarkan adanya kebocoran dan kerusakan di sejumlah bagian, termasuk pada fasilitas pelayanan publik.
Baharuddin menekankan bahwa kantor penghubung memiliki posisi strategis, tidak hanya sebagai pusat koordinasi antar-instansi, tetapi juga sebagai tempat pelayanan warga Kaltim yang berada di Jakarta. Oleh karena itu, menurutnya, gedung ini harus mencerminkan identitas daerah yang profesional dan siap melayani.
“Bangunan ini adalah simbol kehadiran Kaltim di Ibu Kota. Kalau kondisinya kumuh dan rusak, maka citra kita sebagai daerah akan ikut tercoreng. Saya minta Dinas PU dan Bapenda segera mengambil tindakan. Kalau perlu, anggaran untuk renovasi besar disiapkan sejak sekarang,” tegas politisi PAN itu.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti aspek pelayanan terhadap masyarakat. Kantor penghubung, kata Baharuddin, harus menjadi tempat yang nyaman dan layak untuk masyarakat yang memerlukan bantuan administratif maupun informasi seputar daerah asal mereka.
“Warga kita yang sedang berada di Jakarta berhak mendapat layanan yang layak. Gedung ini seharusnya menjadi ruang yang ramah dan representatif. Kita tidak boleh membiarkan hal ini berlarut,” tandasnya. (Adv/RM)
