pembacasetia.com, Samarinda – Proyek pembangunan jalan sepanjang 4,5 kilometer yang menghubungkan Desa Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun, dengan Dusun Pandamaran di Desa Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan, resmi dimulai.
Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim dari daerah pemilihan Kutai Kartanegara, Salehuddin, menyambut positif langkah tersebut dan menyebutnya sebagai terobosan penting bagi konektivitas wilayah hulu Kukar.
Menurut Salehuddin, infrastruktur ini akan membuka akses antar-tiga kecamatan, yakni Kembang Janggut, Tabang, dan Kenohan, yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses transportasi darat.
“Pembangunan ini sangat strategis karena mendukung keterhubungan antarwilayah yang selama ini terkendala jalan rusak,” ujarnya.
Politikus Partai Golkar tersebut menekankan bahwa perbaikan jalan bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi daerah.
Ia berharap proyek ini tak berhenti sebagai upaya jangka pendek, melainkan bagian dari perencanaan infrastruktur yang komprehensif dan berkelanjutan.
“Infrastruktur seperti ini harus dilihat sebagai investasi, bukan hanya pengeluaran. Maka perencanaannya juga harus matang agar dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat,” tegasnya.
Salehuddin juga mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Kukar menghidupkan kembali rencana kerja sama pembiayaan dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) guna mendukung pembangunan konektivitas di daerah-daerah terpencil.
“Masyarakat di wilayah hulu punya hak yang sama untuk menikmati pembangunan. Jangan sampai mereka hanya dijadikan janji, tanpa realisasi yang nyata,” tambahnya.
Diketahui, anggaran pembangunan jalan ini bersumber dari dua skema pendanaan, yakni Rp20 miliar dari APBD Kukar dan Rp30 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Wiyono, menjelaskan bahwa proses konstruksi sudah memasuki fase optimal, dengan suplai material dan peralatan berat yang sebagian besar telah berada di lokasi.
Ia juga menuturkan bahwa konstruksi jalan akan menggunakan kombinasi aspal dan rigid beton, khususnya di titik-titik rawan kerusakan akibat aktivitas kendaraan berat. “Kami pastikan bukan hanya tambal sulam. Beberapa ruas akan dibangun dengan rigid pavement agar lebih tahan lama,” kata Wiyono.
Proyek ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025, dan diharapkan bisa menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi, sosial, dan mobilitas warga di kawasan hulu Kutai Kartanegara. (Adv/RM)
