Thursday, June 11, 2026
HomeDPRD Provinsi Kalimantan TimurKurikulum Nasional Dinilai Tak Relevan untuk Daerah Kaya SDA seperti Kaltim

Kurikulum Nasional Dinilai Tak Relevan untuk Daerah Kaya SDA seperti Kaltim

pembacasetia.com, Samarinda – Sistem pendidikan nasional yang bersifat seragam dinilai belum mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat di daerah kaya sumber daya alam (SDA) seperti Kalimantan Timur (Kaltim).

Wakil rakyat di DPRD Kaltim menilai bahwa pendekatan pendidikan saat ini masih terlalu terpusat dan belum mencerminkan kondisi serta tantangan lokal yang dihadapi wilayah-wilayah seperti pesisir dan pedalaman Kaltim.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menyampaikan bahwa kualitas SDM di daerah penghasil tambang dan migas justru sering tertinggal. Hal itu disebabkan oleh kurikulum yang tidak disesuaikan dengan potensi, budaya, maupun kebutuhan tenaga kerja lokal.

“Selama ini pendidikan diatur secara nasional tanpa melihat konteks daerah. Akibatnya, anak-anak di daerah kita belajar hal-hal yang tidak selaras dengan kehidupan mereka sehari-hari,” tegas Agusriansyah.

Ia menyoroti bagaimana ketimpangan pendidikan di Kaltim yang justru terjadi di tengah melimpahnya SDM. Menurutnya, daerah seperti Kaltim seharusnya memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum yang mencerminkan kebutuhan dan realitas lokal, mulai dari kearifan budaya, hingga peluang sektor ekonomi yang tumbuh di masing-masing wilayah.

Bagi Agusriansyah, pendidikan yang hanya fokus pada standar nasional berisiko memunculkan ketimpangan sosial jangka panjang, karena lulusan tidak dibekali dengan keterampilan yang aplikatif di wilayahnya sendiri.

“Kita perlu mendesain ulang pendidikan agar tidak hanya mengacu pada pusat, tapi benar-benar menjawab tantangan lokal. Pendidikan seharusnya menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar alat penyeragaman,” jelasnya.

Politikus Fraksi PKS itu juga menegaskan pentingnya memperkuat peran daerah dalam perumusan kebijakan pendidikan. Ia mengusulkan agar pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta masyarakat lokal dilibatkan dalam penyusunan kurikulum yang kontekstual.

Menurutnya, model pendidikan yang kontekstual bukan hanya soal pelestarian budaya, tetapi juga soal kemandirian ekonomi dan keberlanjutan pembangunan daerah.

“Kalau anak-anak kita belajar dari lingkungan dan potensi yang mereka miliki, maka mereka akan lebih siap membangun desanya, bukan sekadar mencari kerja di luar,” terangnya.

Agusriansyah menambahkan, masyarakat di wilayah pinggiran selama ini terlalu sering dijadikan objek pembangunan, bukan subjek yang menentukan masa depan mereka sendiri. Untuk itu, ia mendorong kolaborasi lintas sektor agar pendidikan benar-benar menjadi bagian dari solusi ketimpangan.

“Pendidikan harus mencerminkan siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana arah pembangunan kita. Kalau ini bisa diterapkan, maka Kaltim tidak hanya kaya SDA, tapi juga kuat dalam SDM,” tukasnya. (Adv/RM)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments