Thursday, June 11, 2026
HomeDPRD Provinsi Kalimantan TimurAfif : Ekonomi Kaltim Tangguh, Tetapi Warga Belum Merasakan Manfaatnya

Afif : Ekonomi Kaltim Tangguh, Tetapi Warga Belum Merasakan Manfaatnya

pembacasetia.com, Samarinda – Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Andi Muhammad Afif Raihan Harun, mengecam ketidaknormalan pembangunan di daerahnya. Meskipun Kaltim menyumbang 48,4% dari PDRB Pulau Kalimantan, menurutnya warga masih terbelenggu oleh pengangguran dan kesenjangan sosial.

“Kaltim menghasilkan sebagian besar ekonomi di Kalimantan, tapi warga lokal tetap sulit mendapat pekerjaan dan masih banyak yang hidup dalam kemiskinan. Ini harus jadi alarm,” tegas Afif.

Data APBD menunjukkan penurunan angka kemiskinan dari 6,11% (2023) menjadi 5,78% (2024), namun jumlah penduduk miskin tetap tinggi, sebanyak 221.340 jiwa. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka di angka 5,14%, melewati rata-rata nasional sebesar 4,91%.

“Ini paradoks: daerah kaya sumber daya, tetapi warganya justru dirugikan. Pemerintah perlu gerak cepat untuk membuka lebih banyak lapangan kerja,” ujar Afif.

Lebih lanjut, Afif mempertanyakan efektivitas pendapatan daerah dari pos “lain-lain pendapatan daerah yang sah”, yang baru terealisasi 72,2% dari target Rp202,4 miliar. Ia menyoroti kinerja BUMD, bahkan menegaskan kemungkinan pergantian pemimpin jika kinerja tak kunjung membaik.

Fraksi Gerindra juga mengevaluasi penggunaan belanja daerah. Program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) dan peningkatan mutu pendidik, menurutnya, belum mencapai hasil memadai.

Afif meminta pemerintah menyediakan data rinci mengenai jumlah rumah yang telah direhabilitasi melalui APBD maupun CSR.

Terkait SiLPA sebesar Rp2,597 triliun, Afif menyatakan bahwa angka tersebut mencerminkan lemahnya realisasi belanja, sekaligus potensi yang belum dimanfaatkan untuk memacu perekonomian lokal. Ia mendesak agar laporan pertanggungjawaban anggaran lebih transparan dan akuntabel.

Sebagai bagian dari solusi, Afif menyarankan pemerintah bersinergi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset lokal agar inovasi dan hasil penelitian bisa diimplementasikan dalam kebijakan daerah.

“Jika riset dari kampus bisa disalurkan dalam perencanaan pembangunan, maka kebijakan akan lebih tepat sasaran dan meningkatkan produktivitas lokal,” pungkas Afif. (Adv/RM)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments